pena ungu

Pages

  • Beranda

Blog Archive

  • ▼  2013 (5)
    • ▼  Januari (5)
      • Students Have Less Ability in Writing
      • Little story of a little girl
      • Virtual World Meeting
      • Jakarta, wait for me (2)
      • Jakarta, wait for me (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  Agustus (6)
  • ►  2011 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Mei (3)

About Me

Foto Saya
pena ungu
Sedang dan masih belajar untuk menulis karena menulis adalah pelajaran seumur hidup. Salam pena ungu :)
Lihat profil lengkapku

About this blog

Facebook Fan Page

Blog Archive

  • ▼  2013 (5)
    • ▼  Januari (5)
      • Students Have Less Ability in Writing
      • Little story of a little girl
      • Virtual World Meeting
      • Jakarta, wait for me (2)
      • Jakarta, wait for me (1)
  • ►  2012 (6)
    • ►  Agustus (6)
  • ►  2011 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Mei (3)

About Me

Foto Saya
pena ungu
Sedang dan masih belajar untuk menulis karena menulis adalah pelajaran seumur hidup. Salam pena ungu :)
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Sabtu, 13 Agustus 2011

Bincang Sore

Mata ini liar -tepatnya bola mata yang berwarna hitam ini oh bukan bagian retina dari mata ini yang liar menangkap degala cahaya dari berbagai penjuru-
Dia mencari-cari cahaya cinta yang terpencar di sekelilingnya
Ada yang kuat... tepat berada disampingnya

Perkenalkan, mereka adalah sepasang burung dara yang sama-sama malu menampakkan perasaannya berbulan-bulan yang lalu
Tetapi, sekarang mereka sudah tidak kuat lagi untuk terbang sendiri-sendiri, berlainan arah, saling meninggalkan, pura-pura tidak saling kenal dihadapan yang lain
Mereka sudah tidak kuat untuk tidak saling memegang tangan karena sebenarya mereka sama-sama takut kehilangan

Waktu terus bergulir dengan liarnya, tanpa terasa, kepura-puraan mereka, permainan kucing-kucingan mereka telah berlangsung hampir satu tahun
Sebenarnya yang menjadi aktor dan aktris dalam sinetron yang mereka buat hanyalah mereka sendiri dan keluarga satu spesiesnya
Teman, sahabat, bebas melihat mereka terbang berdua dari sarangnya menuju tempat menikmati hidangan 'cinta' mereka, bebas melihat tali kasih yang tersimpul di kaki kecil mereka

Tersadar mereka diperhatikan dan bertanya
"Kenapa, apa yang kau mau?"
"Aku hanya sekedar memperhatikan dan merasakan listrik kasih sayang yang kalian timbulkan"
"Buatlah listrikmu sendiri, kau akan merasakan setruman yang tidak menyakitkan tetapi setruman yang membuatmu bergairah ingin terus menikmatinya"
"Sulit... aku terbelenggu di kabel listriknya itu sendiri"
"Kami pun begitu, terkadang terbelit sendiri, kenapa tali ini mengekang terlalu kuat sedangkan kami masih punya hubungan darah mungkin hubungan darah itu yang makin memperkuat ikatannya sehingga simpulnya pun terikat mati"
"Ya.. aku iri melihat tali itu"
"Hem izinkan kami berbagi sedikit kepadamu!"
Aku mengangguk

"Kami... kami yang tidak peduli sejauh apa umur memisahkan kami"
"Kami tidak malu untuk berbagi cerita dengan orang lain, tidak malu untuk memberitahu orang lain kalau diri ini sayang, kangen dan butuh sosoknya untuk ada dalam setiap kepak sayap kami"
"Terserah... orang mau beranggapan apa, beranggapan kami berlebihan atau mabuk cinta tapi memang itulah adanya, cinta yang kami rasakan memang berlebih setiap hari, mungkin memang karena terlalu banyak 'minuman' yang memabukkan itu atau kebanyakan memakai heroine sehingga rasanya seperti terus berada di awang-awang dan ketagihan"
"Kami senang menunjukkan cinta kami pada dunia, cukuplah kami bermain kucing-kucingan dengan mereka yang tidak merestui hubungan kami asalkan bumi tetap tahu dan mengizinkan kami untuk memakai tempatnya dalam berbagi cinta kasih sayang"
"Biarlah bumi yang akan menjelaskan segalanya kepada mereka bagaimana kami saling menyuapi biji-bijian kasih sayang ke dalam tubuh masing-masing, terbang menuju matahari yang sedang terbenam untuk melihat kombinasi warna yang dapat menghasilkan usatu keindahan. Karena sesungguhnya keindahan berasal dari perbedaan yang saling menyatu"
"Cukuplah bumi yang menjelaskan nanti bagaimana kami sama-sama sakit saat mendengar segala bisikan yang muncul dari belakang kepala kami, kami yang sama-sama terseok-seok karena kaki kami dikekang oleh belenggu ikatan darah"
"Tak apa, asal bumi mengerti kalau kami ingin bersama. Buktinya dia tetap membiarkan kami berpijak dan tidak melempar kami keluar dari tanahnya"
Mereka akhiri dengan saling berpegangan dan menatap satu sama lain, aliran listrik itu makin terlihat kuat

Aku hanya terdiam, memandangi sesuatu yang tidak layak untuk kugenggam dan kurasakan
Selalu saja lepas, kemudian terbang terbawa angin dan tak kembali lagi
Apa genggamanku yang tidak kuat?
Entahlah

Cemburu membakar, rasa iri ikut-ikutan ingin ikut menambah besar api yang telah berkobar
Kutundukkan kepalaku
Rasanya berat melihat mereka yang ada di hadapanku dapat saling berbagi rasa sakit ketika kekangannya terlalu kuat, dapat saling memberi kekuatan ketika kekangannya terasa kendur, dapat tetap bahagia sekalipun kekangannya membuat sakit

Rasa iri itu semakin mencapai puncaknya ketika sepasang dara itu saling bertukar hadiah sebagai ucapan terimakasih dalam bentuk yang bisa terkenang
Dara betina memberikan sebuah bingkai foto diisi berbagai macam pose kala mereka bersama yang telah disusun dengan amat rapi dengan perpaduan antar buliran air mata dan sebongkah senyuman melihat waktu setahun yang telah mereka dapat lalui
Hadiah itu disusun dengan harapa tinggi, harapan untuk terus menambah kenangan-kenangan bersama dan mengabadikannya sampai album foto pun tidak mampu lagi menampungnya, mengabadikannya sampai suatu saat mereka memiliki bingkai foto pernikahan sendiri, mengabadikan sampai mereka mempunyai foto kala melihat senja itu lagi disaat kulit mereka telah mempunyai lipatan-lipatannya tersendiri
Hadiah itu, sebagai 'reminder' bagi kekasihnya

Aku tidak tahan, terlalu banyak hal yang dapat mereka pertahankan sedangkan aku tidak
Terlalu kuat aliran listrik yang menghasilkan sedangkan aku tidak, aliran listrikku telah mengalami korsleting dan tidak bisa lagi digunakan
Ingin rasanya menangis melihat ketidakmampuanku
Ingin rasanya marah melihat keegoanku yang selalu ikut campur dalam medan listrik yang kuhasilkan

Aku berdiri, berpamitan pada sepasang burung dara itu

Kembali mata ini liar tetapi yang kutemukan disekitarku tetaplah sebuah medan cinta yang kuat

"Ah... aku tidak cocok dengan lingkungan ini"


Pergi menjauh meninggalkan berjuta pasangan yang tetap berusaha memamerkan tali-tali simpul yang terikat indah di diri mereka

Diposting oleh pena ungu di 02.59 1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Jumat, 29 Juli 2011

sebuah 'ketagihan'

Pertama
Memasuki dimensi pengenalan
Awalnya, aku tidak terlalu mengenalmu ya hanya sekedar mengenal label yang tertera pada kemasanmu
Kemasanmu tidak menarik perhatianku karena hampir sama dengan yang lain
Lagipula aku sudah mempunyai favoritku waktu aku sering lewat di hadapanmu
Jadilah kau kuabaikan
Seiring dengan waktu, aku sering menjumpaimu karena tuntutan kebutuhan
Kau berdiri di tempatmu, memandangiku dengan terdiam ya terdiam membeku memandangiku
Aku hanya bolak-balik di depanmu, mengambil salah satu favoritku
Kau mulai membuatku penasaran akan 'rasa'mu
Aku pun mengambilmu, memberimu kesempatan untuk memamerka 'rasa' yang kau miliki
Ternyata dengan segenap usahamu, kau berusaha membuat mulutku nyaman ketika menguyah pada gigitan pertama
Kau berusaha membuatku keranjingan akan 'rasa' yang kau punya
Kau meleleh seketika saat aku mulai melumatmu, meletakkanmu ditengah-tengah lidah dan dinding-dinding mulutku, kau menyebar disekitar gigiku, dan aku terus mencoba untuk menikmatimu
Ah kau memiliki 'rasa' yang tidak berbeda dari yang lain, tidak spesial menurutku
Mencoba menghabiskanmu sepotong
Pada gigitan kedua, kau mencoba menarik perhatianku lagi, mencoba agar mulut ini peka terhadap 'rasa'mu
Menggigit, melumat, mengecap
Tanpa sadar aku mulai ketagihan dengan 'rasa' yang kau tawarkan pada beberapa gigitan selanjutnya
'rasa'mu makin lama makin terasa lembut dan renyah dimulutku
Terasa mengenakkan, seketika membuat mood terasa lebih baik
Kau memberikan rasa manis yang makin membuat mulutku terus mengeluarkan air liurnya saat melihatmu
Kau amat menggiurkan, mulai memabukkan dan menggoda indera pengecapku
Semua itu kau tawarkan di balik kemasanmu yang tidak terlalu menonjol

Kedua
Memasuki dimensi kemunduran
Hari-hari berlalu
Hari itu, dimana hati ini perlu sesuatu yang dapat merapikan moodku yang berantakan
Aku sudah tau kemana hati ini menuntunku, aku ambil favoritku
Tersontak kaget saat melihat favoritku itu ternyata telah meleleh
Oh tidak.. aku lupa menaruhnya di pendingin
Lelehannya menempel pada kemasan sehingga sulit untuk dibuka dan menikmati 'rasa'nya yang utuh
Lelehannya mengotori tanganku, sempat kujilat, namun rasanya berubah menjadi aneh bukan rasa yang selama ini cocok dengan indera pengecapku
Hati ini makin tidak karuan karena DIA tidak bisa lagi menenangkan hatiku, rasanya telah berubah karena pancaran matahari yang menyelimutinya
Mungkin.. zat theobromine dan zat-zat lainnya telah hilang ikut meleleh bersama hatiku karena rasa kecewa
Zat tersebut tidak lagi terkandung dalam favoritku itu sehingga 'rasa'nya berbeda, tidak bisa menenangkan hati, tidak memberikan rasa nyaman, tidak membuat jantungku berdetak sesuai irama, tidak membuat jaringan otot ini bersemangat

Ketiga
Memasuki dimensi subtitusi
Masih ku ingat ternyata masih ada satu yang kusimpan di lemari pendingin, tersembunyi dari adik kakaku, dari orang-orang agar mereka tak dapat merebutmu atau sekedar menuduh macam-macam
Kau dingin, kesejukanmu menelusuri buku-buku tanganku
Apa bisa kau rapikan semua? tanya dalam hati
Tidak akan pernah kutahu jawabannya jika aku tak mencoba
Kubuka..
Kugigit.. renyah
Kulumat.. sensasimu langsung menyebar di sekitar indera pengecap dan pengunyahku
Kuemut.. Rasa manis tertinggal dan memberikan tanda tersendiri, tanda kepemilikan, sepertinya begitu
Kau kembali mengaktifkan reaksi kimia di otakku, merangsang serotonin aktif dan seketika perasaan nyaman menggelayuti tubuh ini, mulai merapikan ruangan yg disebut hati


Sejak saat itu..
Rasamu yang kucari-cari
Rasa yang sama
Rasa yang pas
Tidak terlalu manis ataupun pahit
Tidak kelebihan gula
Tidak merubah bentuk karena kandungan lemaknya

Rasamu berhasil menciptakan dopamine dalam tubuh ini

Jangan ubah komposisi yang terkandung.. Jangan ubah rasamu
Diposting oleh pena ungu di 20.45 2 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Senin, 25 Juli 2011

Fratellino

5 tahun berlalu ketika dia datang kerumah kami mengisinya dengan tangisan, tawa, dan bau khas yang dia timbulkan dari dirinya
5 tahun berlalu ketika dia masih duduk di pangkuan kami dan mengisap jari-jarinya yang mungil

5 tahun berlalu ketika dia baru belajar merangkak tetapi tidak bisa karena beban di kepalanya
5 tahun berlalu ketika dia belajar untuk dapat menggapai mama yang berdiri di hadapannya

5 tahun berlalu ketika dia belum tau apa-apa, belum mengenal beberapa huruf yang berjejer di buku yang dipegangnya, belum tau cara menggunakan pensil yang ada ditangannya dan belum tau berapa jumlah jari yang dia punya

5 tahun berlalu ketika dia hanya bisa memanggil kedua orangtuaku dengan "pa..ma" memanggilku dengan "ngong"

5 tahun berlalu ketika dia tidak bersosialisasi dan hanya bisa berlari lari di dalam rumah karena kami terlalu takut akan terjadi sesuatu dengan dirinya diluar sana bila dia berada di luar pengawasan kami

Tanggal 11 Juli 2011 
Dia kami lepas agar dapat menemukan dunia baru dalam hidupnya.
Kami lepas dia agar tidak ada lagi ketakutan dalam dirinya untuk bergabung dan bertemu beraneka ragam manusia yang ada di dunia luar rumah.
Berkenalan dengan kawan yang akan menghiasi hari-hari dan mendampinginya dirinya dalam bertumbuh dewasa di beberapa tahun ke depan.

Hari itu, kami melihat dia dengan bangga memakai baju seragam sekolah kanak-kanak
Ah dia terlihat gagah dan lucu dengan seragamnya yang sedikit lebih besar, celana yang melorot, topi yang tidak berhasil menutupi seluruh kepalanya karena bagian dahi tidak selaras dengan ukuran topinya.

Dia akan belajar bagaimana rasanya memulai perkenalan, bersosialisasi, menjalin sebuah ikatan hubungan, memecahkan masalah yang akan timbul seiring perjalanan hidupnya, belajar segala sesuatu yang tidak ia ketahui, belajar dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak biasa menjadi biasa.
Dan potensinya akan terlihat seiring jalannya waktu....

Tanggal 23 Juli 2011
Tahun ini dia berumur 5 tahun itu berarti dia telah mengulangi tanggal itu sebanyak 5 kali dalam hidupnya.

Kami bangga melihatnya telah beranjak besar dari yang dahulu seorang bayi kecil menjadi sosok balita sehat dan sekarang menjadi anak-anak.

Darinya, kami belajar untuk selalu bersikap jujur karena otaknya selalu dipenuhi oleh sejuta pertanyaan yang menuntut kami meninggalkan jauh sifat munafik.
Darinya, kami belajar suatu keceriaan yang alami yang terpancar dari raut putih wajahnya, menyadarkan betapa banyaknya kepura-puraan yang selama ini kami tunjukkan kepadanya.
Menyadarkan betapa masih murni dan tanpa dosanya setiap hal yang dia lakukan.
Belum ada kepura-puraan.. Belum ada kebohongan.. Belum ada udang di balik batu

Dia tidak sendiri.. Dia tidak hanya memiliki kami.. Dia akan memiliki teman dan sahabat di luar sana
Dan kami mungkin akan merasa tersaingi saat mengetahui suatu saat dia akan lebih sering menghabiskan waktu di luar bersama teman sebayanya atau mungkin pacarnya dibandingkan dengan kami.

Hanya sedikit harapan kami kepadanya...
Semoga dia tumbuh menadi seseorang yang dapat membanggakan kami, mewujudkan impian dengan caranya tersendiri disertai dengan bimbingan-Nya, dan mewujudkan harapan KAMI orang-orang yang mencintainya sekaligus selalu ada menemaninya.

Dia adalah anak kami, adik kecil kami
Muhammad Daffa AlGhiffary


"semoga kelak dia akan menjadi seorang pejabat" harap mama
          
Diposting oleh pena ungu di 08.35 2 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Kamis, 14 Juli 2011

P E N I N G

Pening
Ku harap kau disini
Pening
Namun kau tak kunjung berlari
Pening
Akhirnya aku hanya menangisi
Pening
Menangisi kemauan hati yang tak kunjung terisi
Pening
Tangis mengalir lagi
Pening
Aku coba berhenti
Pening
Tapi makin tak terkendali
Pening
Lantas ku coba berlari
Pening
Bayangmu mengikuti
Pening
Terus menghampiri
Pening
Menghantuiku yang tengah sendiri
Pening
Kau teruskan dengan tawai hati ini
Pening
Dirimu semakin menjadi-jadi
Pening
Menembus luka yang tergores sakit hati
Diposting oleh pena ungu di 08.21 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Selasa, 12 Juli 2011

Entahlah

Tiada ucapan malam ini
Maaf
Tapi kuharap kau mengerti
Mengerti?
Mengerti bahwa aku membutuhkanmu
Membutuhkanku?
Membutuhkanmu untuk menemaniku malam ini
Menemanimu?
Menemaniku menyusuri malam hingga mata ini mau beristirahat sejenak
Kumohon mengertilah sedikit
Rindu ini terlalu besar dan tak terbayarkan dengan hanya sebuah ucapan pendek
Ucapan pendek pada dunia elektronik ataupun dunia maya
Tanpa suara kau berucap
Tanpa wajah kau berekspresi
Maaf
Semoga akhirnya kau mengerti
Mengerti lagi?
Mengerti bahwa aku menginginkan lebih
Maaf
Maaf?
Bila aku tak mengerti akan dirimu yang memang begitu
Maaf
Lagi?
Bila diri, hati, dan jiwa ini terlalu manja
Manja akan banyak hal
Hal yang sebenarnya bukan terpancar dari dirimu

Maaf
Diposting oleh pena ungu di 06.55 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Selasa, 05 Juli 2011

karena ku tahu engkau begitu :)

Satu buah judul lagu yang menyentuh hati. Terakhir kali kudengar beberapa tahun silam saat lagu itu masih tersimpan di dalam handphone milik kakakku. Tidak kusangka aku akan mendengarnya lagi beberapa tahun kemudian tepatnya tahun ini. Tetapi, aku tidak mendengarnya melalui MP3 dimana penyanyi aslinya yang menyanyikan lagu ini atau melalui sebuah lagu yang diputar di komputer maupun melalui video di YouTube. Aku kembali mendengarnya melalui suara yang berbeda. Suara yang tentu saja bukan suara penyanyi aslinya yaitu Andre Hehanusa.
Aku mendengar lagu itu kembali dinyanyikan oleh seseorang menggunakan gitar dan duduk di depan komputer. Ya dia merekamnya untukku. Kaget, senang, salah tingkah campur jadi satu saat melihat pemutarannya.
"pasti dia dengan susah payah mengulangnya sampai terlihat sempurna dan bagus" ucap salah satu sahabat jikalau aku tidak salah ingat.
Terimakasih. Lagi-lagi hanya itu yang dapat kulontarkan sebagai wujud pengapresianku atas usahamu.
Dan sekarang ku tahu karena ku tahu engkau begitu. Salam Manis dalam lawan kata :)

ini dia liriknya
Karena Kutahu Engkau Begitu by Andre Hehanusa


Kuyakin dalam hatiku
Kau satu yang ku perlu
Kurasa hanya dirimu
Yang membuatku rindu

Reff 1:
Bila saat nanti kau milikku
Kuyakin cintamu
Takkan terbagi, takkan berpaling
Karena kutahu engkau begitu
Karena kutahu engaku begitu

Hingga ku pasti menunggu
Selama apapun itu
Demi cinta yang kurasakan
Yang hanyalah kepadamu

Reff 2:
Percayalah kusungguh-sungguh
Mengatakan semua
Yakinkan hatimu kau milikku
Karena kutahu engkau begitu
Karena kutahu engkau begitu

Repeat Reff 1
Repeat Reff 2








Diposting oleh pena ungu di 11.05 2 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

puisi dari dia yang pernah di hati :')

Langkah Sembilan Belas : Catatan Untukmu


tertinggal jauhlah sudah langkahku
terhapus semua yang pernah membekas
oleh angin, oleh hujan
oleh warna dan oleh cerita

langkahku bangun dengan air mata
bukan bahagia apalagi karena luka
aku tak menamainya, aku tak suka!!
tak cukup aku merasa yang tak biasa
tak cukup aku melayang dalam impian
aku ingin lebih. . .
lebih dari semua . . .
semua yang pernah ada

air mataku menetes di detik akhir
bukan karena menyesal atau merenung
bukan cengeng karena dipukul
aku tak mengadu
aku bukan pecundang
yang dibenci setiap zaman, atau mungkin orang-orang
kau tau?
ya, ini karena. . .
aku

aku menemukanmu . . .
dengan senyuman sejuta kenangan
dalam lingkup yang tak terbataskan
dalam kematian yang kau hidupkan
dan dalam . . .

CATATAN HITAM
dari sini aku mengawali perjalanan sang pencari hidup,
sampai kapanpun, sampai kau bunuhpun
kau tetap...
?||%=232 x: :3?2+
(purnama ke empat)


Diposting oleh pena ungu di 06.54 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Postingan Lebih Baru Postingan Lama
Langganan: Postingan (Atom)
@ 2011 pena ungu; Theme design : Ray Creations