pena ungu

Pages

  • Beranda

Blog Archive

  • ►  2013 (5)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2012 (6)
    • ►  Agustus (6)
  • ▼  2011 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ▼  September (4)
      • pernikahan atau?
      • inspiring me once again (1)
      • dua kata yang terlambat
      • Duduklah dulu Pejamkan sejenak matamu Rasakan perl...
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Mei (3)

About Me

Foto Saya
pena ungu
Sedang dan masih belajar untuk menulis karena menulis adalah pelajaran seumur hidup. Salam pena ungu :)
Lihat profil lengkapku

About this blog

Facebook Fan Page

Blog Archive

  • ►  2013 (5)
    • ►  Januari (5)
  • ►  2012 (6)
    • ►  Agustus (6)
  • ▼  2011 (19)
    • ►  Desember (3)
    • ▼  September (4)
      • pernikahan atau?
      • inspiring me once again (1)
      • dua kata yang terlambat
      • Duduklah dulu Pejamkan sejenak matamu Rasakan perl...
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (8)
    • ►  Mei (3)

About Me

Foto Saya
pena ungu
Sedang dan masih belajar untuk menulis karena menulis adalah pelajaran seumur hidup. Salam pena ungu :)
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Senin, 26 September 2011

pernikahan atau?


                Malam ini memang malam yang berbeda dari malam yang biasanya setelah hampir sebulanan aku menempati kamar kosku ini. Mengapa berbeda? Karena malam ini secara langsung aku melihat dan menyaksikan kemeriahan sebuah pernikahan yang memakai jasa ‘electon’. Begitu orang-orang sini menyebutnya. Ya, istilah itu sama layaknya dangdutan. Musik yang mewah, meriah, dan membuat semua orang yang mendengar ingin bergoyang. Oh, bukan sekedar ingin bergoyang tetapi cobalah mendekat dan nikmati sensasinya secara langsung. Membuat mata tak akan lepas dari penyanyi yang membawakan lagu-lagu merdu nan menggoda itu. Penyanyi yang ditampilkan memang sudah dandan dengan sedemikian rupa. Dengan pakaiannya yang serba kekurangan bahan baik baju maupun celana atau rok yang mereka kenakan. Dandanan mereka yang cantik dengan bedak tebal dan lipstik yang merona menyelaputi bibir mereka yang seksi makin membuat sang penyanyi bak bintang yang bersinar paling dekat dengan masyarakat sekitar pada malam itu, makin menggugah selera para lelaki yang mendominasi penonton mereka pada malam itu. Para lelaki yang tersebar dibagian samping dan depan panggung seperti anjing-anjing yang haus akan jilatan, sentuhan dan tergugah menggerayangi majikannya.
Bingung sendiri sebenarnya dalam hati. Apa yang sebenarnya dipikirkan pemilik acara itu dengan menghadirkan hiburan semacam itu? Apa untuk menarik tamu agar lebih banyak yang menyaksikan pernikahan mereka? Oh atau ingin sekedar membagi kebahagiaan dengan para tetangganya dengan menghadirkan hiburan yang membuat para tetangganya ‘senang’ dan akan ‘menikmati’nya? Ah entahlah.
Berbagai pertanyaan pun mulai mencuat dalam benak ketika kulihat para penonton yang didominasi dengan anak kecil. Penyanyi cantik nan rupawan itu mengajak anak-anak yang duduk di sekitar panggung untuk ikut berjoget dan bernyanyi bersamanya. Mengapa harus anak sekecil mereka yang bahkan seharusnya belum cukup umur untuk menyaksikan tontonan itu yang justru mereka ajak tenggelam dalam pusaran aksi mereka? Dan ada apa dengan orangtuanya? Kenapa mereka membiarkan anak-anak mereka ikut bersikap layaknya orang dewasa yang turut menikmati setiap lekukan tubuh dan kemolekan dari kakak cantik yang ada di hadapan mereka? Oh God, belum saatnya bagi mereka melihat hal semacam itu, masih terlalu dini mereka disodorkan dengan tontonan yang sarat edukasi seperti itu. Lebih baik mereka di dalam rumah dan menikmati acara televisi kesukaan mereka sekalipun itu sebuah sinetron yang mereka tonton. Ironis sebenarnya, bahkan orangtua mereka pun ikut tenggelam bersama jutaan penonton lain yang menikmati sajian itu. Ibu-ibu mereka yang ikut berteriak-teriak, memeriahkan acara dan ayah-ayah mereka yang semenjak dari awal tidak melepaskan pandangan atapun mengalihkan pandangan dari gadis-gadis muda yang membuat air liur mereka merintik tanpa terlihat. Ya… anak-anak itu cuma melihat apa yang ada dan dilakukan oleh orang-orang sekitarnya, faktor keluarga dan lingkunganlah yang amat mempengaruhi pola pikir dan sifat mereka kedepannya. Jikalau, kasusnya seperti ini entahlah siapa yang seharusnya mengajarkan dan memberi contoh baik kepada mereka.
Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai pengisi acara itu sendiri. Bukan hal yang biasa lagi kalau di zaman seperti ini mengharuskan setiap orang untuk ekstra usaha untuk mendapatkan sebuah pekerjaan, untuk mendapatkan selembar atau segepok uang. Apa itu yang mendasari mereka untuk bekerja dengan cara seperti itu? Tidak ada yang salah memang, mereka khususnya bagi para gadis-gadis itu, mereka tidak menjual diri secara cuma-cuma. Menurutku, ada kriteria tersendiri yang harus terpenuhi jika ingin bergabung. Hal-hal itu seperti memiliki wajah yang berstandar tidak dibawah rata-rata, kemolekan tubuh yang tidak hanya rata atau lurus sampai bawah tetapi memiliki lekukannya di setiap bagian tubuh tersendiri. Sulit. Tidak semua orang dapat memenuhi kriteria seperti ini. Mungkin karena desakan ekonomi yang makin menghimpit yang membuat mereka dengan terpaksa mengambil pekerjaan ini. Atau mereka senang melakukan itu semua?
Ah… tidak mengerti dan tak terjawabkan semua pertanyaan itu. Salah satu yang terpikirkan saat ini oleh diriku yang baru pertama kali menyaksikan pertunjukan seperti itu adalah suatu lingkungan yang telah terhipnotis oleh suatu aksi yang berselera itu dengan para anak-anak kecil yang menjadi korban serta para pemain aksinya yang hanya menjalankan pekerjaan mereka secara professional karena dituntut oleh sebuah ekonomi demi dapat bertahan menghadapi hidup yang semakin keras dan penuh persaingan ini. Malam ini, membuat diriku pun berpikir untuk selalu belajar, mengambil ilmu sebanyak mungkin, melatih diri sebanyak mungkin, mengetahui kemampuan yang kumiliki secara baik agar ke depannya diri ini dapat menuangkan apa yang telah kupelajari selama ini ke dalam wadah yang cantik dan sesuai dengan apa yang telah kuraup dan kutimba.

Oh, satu lagi....
 Aku berjanji pada diri sendiri kalau aku tidak akan memakai hiburan semacam itu untuk meramaikan pernikahanku nanti

So sorry bang electon :D

Diposting oleh pena ungu di 05.03 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Minggu, 25 September 2011

inspiring me once again (1)

“Hahaha, ayo coba kejar aku!” pintaku sambil terus berlari. “Awas kamu, La!” seru seorang lelaki yang lebih tua dari aku. Dengan lincahnya, aku berlari dan terus berlari, menyusuri pohon-pohon yang ada disekitar rumahku, Rumahku? Ya, rumahku terletak di sebuah desa bernama Desa Tulungagung, Jawa Timur. Mungkin rumahku adalah rumah yang paling paling tak terlihat jika dilihat dari kampung sebelah. Hanya terletak disepetak tanah dengan lantai semen dan hanya mempunyai satu kamar di dalamnya sehingga kita harus berdempet-dempetan dalam tidur kami. Ahh biarlah, masa bodo dengan bagaimana rumahku, yang penting aku tidak tertangkap oleh laki-laki berambut klimis belah pinggir itu, berlari semakin cepat untuk menghindarkan diri agar tidak tertangkap olehnya. Dengan gerakan yang gesit dan cepat pula, dia tidak mau kalah. Heeem… dia memang tidak pernah mau kalah walaupun dengan anak kecil sepertiku yang baru berumur 5 tahun. Coba kau lihat wajahnya saat mengejarku, dia terlihat seperti seorang bayi berumur 5 bulan yang ingin menangkap mainan yang dipegang ayahnya. Dengan seluruh kemampuan yang dia punya, mencoba menangkap mainan itu walaupun tangannya yang kecil mungil itu tidak bisa menjangkau mainan yang dipegang ayahnya. Haha.. Lucu sekali!!! Seperti itulah dia sekarang, dengan sekuat tenaga menggerakkan kakinya agar bisa menjangkau diriku. Karena, terlalu memperhatikan wajahnya yang sawo matang yang disinari matahari, aku lengah, dan akhirnya, hap! Jaring tangan itupun menangkapku, dikelitiknya perutku hingga tak kuasa menahan tawa dan akhirnya mengeluarkan air mata.  “Ampuuuun! Hahaha, geli geli geli hahaha” pintaku sambil terus mencoba menutupi perut dan menghalau tangannya agar tak mengelitikku lagi. Setelah puas mengelitik (akhirnya), dia menaikkanku keatas bahunya. Oh, aku mengerti pasti kita akan menari ronggeng seperti biasanya, aku dan lelaki berwajah melakonlis itu pun mulai menggoyangkan tangan layaknya sedang menari ronggeng. “Hahaha, ayo joget teruuuuuuus!” pintaku dengan ceria sambil goyang-goyang di atas bahunya. Kami selalu melakukan ini, bermain, bercanda, menari bersama. Ah lelaki itu…
             
Dia itu pahlawan bertopengku, selalu ada di sisi depan, kiri, kanan, dan belakangku. Walaupun aku tidak tau dia melihatku dari sisi mana tetapi, dia selalu ada di setiap aku tiba-tiba membutuhkannya. Pernah suatu hari, ada sekelompok anak laki-laki seumurku yang mengambil mainan terbaik yang kumiliki, mainan masak-masakanku. Mereka merebutnya dengan paksa, betapa kagetnya aku saat dia tiba-tiba muncul untuk menghalau sekelompok anak lelaki itu. “Berikan atau kuceburkan kalian ke sungai!” serunya. Otomatis, anak-anak ingusan itu takut dengannya dan langsung memberikan mainan itu kembali kepadaku. Dia duduk di bangku kelas 5 saat itu, badannya yang bongsor dan ancaman yang menakutkan, membuat anak-anak ingusan itu tidak berani lagi mengangguku. Begitu juga dengan teman-teman yang sering mengejekku, mengejekku dengan sebutan “anak kumuh”, “anak miskin”, atau “anak kotor”, lelaki itu tidak pernah akan menerima jika aku diejek dengan istilah-istilah tidak berperasaan seperti itu. Dia pasti akan mencari tau siapa orang yang mengejekku. Aku tidak pernah mengadu kepadanya. Jangan pernah berpikir aku tukang mengadu, aku tidak pernah ingin teman-temanku dimarahi olehnya, aku sudah terlalu biasa dengan sebutan-sebutan seperti itu, mencoba agar semua sebutan itu hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan,  tetapi dia tidak akan pernah begitu saja menerima aku diejek seperti itu, baginya kita harus mempunyai yang namanya harga diri. Ah dia masih terlalu dini untuk tahu apa yang disebut harga diri. Hei, jangan dilihat dari umurnya, walau masih bisa disebut sebagai anak ingusan juga, dia telah mengerti dan bersikap dewasa dalam menjalani hidup,menjujung tinggi sebuah harga diri itulah prinsipnya. Dia tetaplah pada pendiriannya, tidak ingin aku diejek dan diolok-olok seperti itu. Walaupun aku tak mau memberi tau kepadanya siapa pelakunya, dia tetap akan mencari tau sampai dia tau siapa yang melakukannya. Setelah dia tahu? Dia akan menemui orang itu, dan menasehatinya. Ingat! Menasehatinya bukan memarahinya. Ah kupikir dia akan mengajak berkelahi anak-anak yang mengejekku itu. Ternyata, orang yang memiliki pendirian itu juga sangat baik hatinya. Prinsipnya yang lain adalah bahwa tidak harus memakai kekerasan dalam menyelesaikan suatu masalah. Suatu sore, saat aku dan dia sedang memetik melinjo untuk ibuku sebagai bahan untuk sayur asemnya, dia bilang kepadaku “Kejahatan itu tidak harus dibalas dengan kejahatan. Coba kamu liat batu yang keras kalau terus menerus diguyuri air hujan, lama-lama batu itu akan lapuk atau hancur juga. Begitu juga seperti manusia, La.” Hem… aku hanya mengangguk berharap suatu hari mengerti apa yang dimaksudkannya.
            
Dia itu dokter psikologisku. Dia yang paling tau dan mengerti kondisi kejiwaan dan perasaanku. Saat masih kecil, aku merasa hidupku sedang berada di bawah sebuah roda yang berputar. Jangan kau pikir, masa kecilku diisi dengan pergi ke taman bermain, belajar berenang di kolam air, menonton aneka kartun di televisi atau bermain mengganti baju dan menguncir rambut sebuah boneka pirang yang cantik. Semua mainanku itu terbuat dari kayu dan merupakan mainan tradisional seperti gasing, gobak sodor, kakekku yang membuatkan mainan-mainan kayu itu untukku. Mainan yang paling bagus yang pernah kumiliki saat kecil adalah mainan masak-masakanku itu, dibelikan oleh ibuku di pasar induk sebagai kado ulang tahunku yang ke 5 di bulan Mei kemarin. Kau bisa membayangkan? Betapa senangnya aku mendapatkan kado itu, sungguh tidak bisa kubayangkan kalau tidak ada “pahlawan bertopengku” saat itu. Yaa. masa yang sangat tidak mudah untuk dilalui seorang anak yang tidak tau apa-apa sepertiku ini. Ditengah-tengah keterbatasan ekonomi, rumah yang sudah hampir rapuh, dan konflik orangtua yang tak kunjung selesai, disanalah aku berada. Diantara keadaan yang mencekik hati itu, satu yang paling membuatku sangat tercekat yaitu saat- saat melihat pertengkaran kedua orangtuaku. Piring, gelas, atau pun vas bunga yang pecah selalu menjadi tontonan yang paling nyata dalam kehidupanku. Aku tidak menangis, aku juga tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghentikannya, walau hatiku sangat mendorong untuk dapat melakukan itu, tapi apa daya, apa yang dapat dilakukan oleh anak kecil, pendek, ingusan sepeti aku ini? Aku hanya bisa terdiam, terdiam, dan terdiam. Ya mungkin, karena sudah terbiasa juga akan hal itu. Tunggu, entah kenapa hati ini rasanya makin tercekat melihat pertengkaran itu, tercekat sekali dan rasanya seperti mau keluar. Tolong bawa aku keluar dari keadaan ini! jerit hatiku. Aku tak sanggup lagi, sungguh tak sanggup. Jangan kau pikir aku hanya seorang siswa taman kanak-kanak, yang hanya bermain mainan bongkar pasang, yang tidak tau apa-apa. Makin lama aku makin mengerti akan semua yang terjadi. Tampang poloskulah yang telah membohongi kalian semua, seakan-akan aku tidak tau apa yang terjadi. Kalian semua telah kubohongi! Tiba-tiba ada seseorang yang mengulurkan tangannya kepadaku, tangan yang mempunyai kuku tangan berwarna hitam, ah kutau pasti orang ini habis main kelereng di luar sana,. pikirku dalam hati.  Kumenengok ke arah suara itu. Nyeeeeees… hati ini seperti mendapat bongkahan es, sejuk dan perlahan mulai lepas dari ikatannya. Wajah yang sama, melankolis, klimis, belah pinggir. “Ayo, La kita main-main diluar!” seru lelaki itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Aku mengangguk sekali, dan beranjak dari tempat yang menyeramkan itu, meninggalkan suara-suara ribut di belakangku.
Diposting oleh pena ungu di 02.10 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Minggu, 11 September 2011

dua kata yang terlambat

Kepada mereka yang hatinya memar karena terantuk sesuatu yang keras
Kepada mereka yang berpura-pura sabar dan tersenyum di hadapanku
Kepada mereka yang lebih memilih menutup diri karena trauma akan kesakitan
Kepada mereka yang harus menelan pil kecewa karena mengetahui semua
Kepada mereka yang merasa dikendalikan tanpa konsep ke arah yang salah
Kepada mereka yang telah mengubah sikap, pikiran, sifat karena sebuah keputusan
Kepada mereka yang akan menghindar jauh dari hadapanku karena muak melihat wajahku yang kotor
Kepada mereka yang seharusnya tidak mengenalku, tidak mengetahui namaku
Kepada mereka yang berharap bisa memutar waktu
Kepada mereka yang sampai saat ini masih menyimpan beban di hati atau pikiran
Kepada mereka yang harus mencium kebusukan dari dalam diriku
Kepada mereka yang kuterbangkan tinggi namun kujatuhkan dengan tiba-tiba
Kepada mereka yang harus mendengar semua janji-janji palsu
Kepada mereka yang tidak lagi menerima sosok setan kecil dalam kehidupannya
Kepada mereka yang terpaksa meneteskan air mata demi diri yang hina
Kepada mereka yang telah menulis ribuan kata cinta demi mendapat sebuah keyakinan
Kepada mereka yang rela melakukan apa saja demi memenuhi sebuah keinginan
Kepada mereka yang merasa ketidakadilan ada dalam hidup
Kepada mereka yang harus mengingkari janji demi sebuah pengorbanan
Kepada mereka yang tersakiti karena seucap kata yang munafik, seonggok perbuatan yang menyisakan tanda
Kepada mereka yang haus kepekaan tetapi aku tidak pernah menyiraminya
Kepada mereka yang harus sabar dalam mencintai
Kepada mereka yang pernah mengenal dan tahu akan sosokku

Maaf
Hanya dua suku kata itu yang dapat terlontar dari mulut yang kalian tahu penuh dengan nista

Tapi sungguh, ini kuucapkan bukan sekedar sebagai untuk jadi sampah
Sungguh, kutulis kata itu dengan penuh rasa harap dialiri air yang deras bahwasanya kata itu tidak berlabuh pada tempat pembuangan sampah semata
Ini bukan kata-kata abstrak, kata-kata yang tidak terlihat jadinya tidak diperhatikan
Bagiku ini sebuah kata-kata yang REAL, yang ADA tetapi hanya orang-orang yang rela membuka sedikit jendela dan pintu rumahnya yang bisa melihat secercah cahaya yang ditampakkan dari dua suku kata itu
Bagiku, pintu itu yang akan mengembalikan kita semua ke dalam satu wadah yang disebut relationship dibandingkan hanya menutup pintu itu demi sekedar memenuhi tunaku tutan ego semata

Tapi sungguh, aku bukan malaikat ataupun dewa, kalian tahu itu
Izinkanlah diriku untuk dapat memasuki pintu itu sedikit agar aku bisa bernafas lega


                                                             LEGA
                                                                        AAAAAAH
Diposting oleh pena ungu di 00.29 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Sabtu, 10 September 2011
Duduklah dulu
Pejamkan sejenak matamu
Rasakan perlahan hembusan angin yang membisik lemah dikupingmu
Latihlah sekelompok marching degup jantung yang tak selaras itu
Atur setiap deru napas yang coba memburu
Anggaplah kau berada langsung di pangkuan-Nya
Buliran air mata telah siap tumpah membasahi-Nya
Menangislah hingga air matamu berbekas terbentuk
Adukan semua yang tak teradukan saat siang memberimu waktu
Ceritalah apa yang tak terselip saat kalian obral obrolan
Yakinkan, Dia tidak akan pernah mengumbar-umbarnya secara murah
Dia akan menyimpannya walau sampai cuci gudang sekalipun

Sudah

Buka perlahan jendela
Secercah cahaya terpantul dari balik buliran yang masih tersisa di daunnya
Cahaya yang masih samar-samar terlihat
Kami kirimkan cahaya itu
Hapuslah penyamarannya dan lihat sesuatu di baliknya

Sekarang

Jangan takut akan malam
Padamkan peneranganmu
Sebab kau telah menerima jawaban untuk memulai hari mu kembali esok
Diposting oleh pena ungu di 08.20 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Postingan Lebih Baru Postingan Lama
Langganan: Postingan (Atom)
@ 2011 pena ungu; Theme design : Ray Creations