Selasa, 12 Juli 2011
Entahlah
Tiada ucapan malam ini
Maaf
Tapi kuharap kau mengerti
Mengerti?
Mengerti bahwa aku membutuhkanmu
Membutuhkanku?
Membutuhkanmu untuk menemaniku malam ini
Menemanimu?
Menemaniku menyusuri malam hingga mata ini mau beristirahat sejenak
Kumohon mengertilah sedikit
Rindu ini terlalu besar dan tak terbayarkan dengan hanya sebuah ucapan pendek
Ucapan pendek pada dunia elektronik ataupun dunia maya
Tanpa suara kau berucap
Tanpa wajah kau berekspresi
Maaf
Semoga akhirnya kau mengerti
Mengerti lagi?
Mengerti bahwa aku menginginkan lebih
Maaf
Maaf?
Bila aku tak mengerti akan dirimu yang memang begitu
Maaf
Lagi?
Bila diri, hati, dan jiwa ini terlalu manja
Manja akan banyak hal
Hal yang sebenarnya bukan terpancar dari dirimu
Maaf
Maaf
Tapi kuharap kau mengerti
Mengerti?
Mengerti bahwa aku membutuhkanmu
Membutuhkanku?
Membutuhkanmu untuk menemaniku malam ini
Menemanimu?
Menemaniku menyusuri malam hingga mata ini mau beristirahat sejenak
Kumohon mengertilah sedikit
Rindu ini terlalu besar dan tak terbayarkan dengan hanya sebuah ucapan pendek
Ucapan pendek pada dunia elektronik ataupun dunia maya
Tanpa suara kau berucap
Tanpa wajah kau berekspresi
Maaf
Semoga akhirnya kau mengerti
Mengerti lagi?
Mengerti bahwa aku menginginkan lebih
Maaf
Maaf?
Bila aku tak mengerti akan dirimu yang memang begitu
Maaf
Lagi?
Bila diri, hati, dan jiwa ini terlalu manja
Manja akan banyak hal
Hal yang sebenarnya bukan terpancar dari dirimu
Maaf
Selasa, 05 Juli 2011
karena ku tahu engkau begitu :)
Satu buah judul lagu yang menyentuh hati. Terakhir kali kudengar beberapa tahun silam saat lagu itu masih tersimpan di dalam handphone milik kakakku. Tidak kusangka aku akan mendengarnya lagi beberapa tahun kemudian tepatnya tahun ini. Tetapi, aku tidak mendengarnya melalui MP3 dimana penyanyi aslinya yang menyanyikan lagu ini atau melalui sebuah lagu yang diputar di komputer maupun melalui video di YouTube. Aku kembali mendengarnya melalui suara yang berbeda. Suara yang tentu saja bukan suara penyanyi aslinya yaitu Andre Hehanusa.
Aku mendengar lagu itu kembali dinyanyikan oleh seseorang menggunakan gitar dan duduk di depan komputer. Ya dia merekamnya untukku. Kaget, senang, salah tingkah campur jadi satu saat melihat pemutarannya.
"pasti dia dengan susah payah mengulangnya sampai terlihat sempurna dan bagus" ucap salah satu sahabat jikalau aku tidak salah ingat.
Terimakasih. Lagi-lagi hanya itu yang dapat kulontarkan sebagai wujud pengapresianku atas usahamu.
Dan sekarang ku tahu karena ku tahu engkau begitu. Salam Manis dalam lawan kata :)
ini dia liriknya
Karena Kutahu Engkau Begitu by Andre Hehanusa
Kuyakin dalam hatiku
Kau satu yang ku perlu
Kurasa hanya dirimu
Yang membuatku rindu
Reff 1:
Bila saat nanti kau milikku
Kuyakin cintamu
Takkan terbagi, takkan berpaling
Karena kutahu engkau begitu
Karena kutahu engaku begitu
Hingga ku pasti menunggu
Selama apapun itu
Demi cinta yang kurasakan
Yang hanyalah kepadamu
Reff 2:
Percayalah kusungguh-sungguh
Mengatakan semua
Yakinkan hatimu kau milikku
Karena kutahu engkau begitu
Karena kutahu engkau begitu
Repeat Reff 1
Repeat Reff 2
Aku mendengar lagu itu kembali dinyanyikan oleh seseorang menggunakan gitar dan duduk di depan komputer. Ya dia merekamnya untukku. Kaget, senang, salah tingkah campur jadi satu saat melihat pemutarannya.
"pasti dia dengan susah payah mengulangnya sampai terlihat sempurna dan bagus" ucap salah satu sahabat jikalau aku tidak salah ingat.
Terimakasih. Lagi-lagi hanya itu yang dapat kulontarkan sebagai wujud pengapresianku atas usahamu.
Dan sekarang ku tahu karena ku tahu engkau begitu. Salam Manis dalam lawan kata :)
ini dia liriknya
Karena Kutahu Engkau Begitu by Andre Hehanusa
Kuyakin dalam hatiku
Kau satu yang ku perlu
Kurasa hanya dirimu
Yang membuatku rindu
Reff 1:
Bila saat nanti kau milikku
Kuyakin cintamu
Takkan terbagi, takkan berpaling
Karena kutahu engkau begitu
Karena kutahu engaku begitu
Hingga ku pasti menunggu
Selama apapun itu
Demi cinta yang kurasakan
Yang hanyalah kepadamu
Reff 2:
Percayalah kusungguh-sungguh
Mengatakan semua
Yakinkan hatimu kau milikku
Karena kutahu engkau begitu
Karena kutahu engkau begitu
Repeat Reff 1
Repeat Reff 2
puisi dari dia yang pernah di hati :')
Langkah Sembilan Belas : Catatan Untukmu
tertinggal jauhlah sudah langkahku
terhapus semua yang pernah membekas
oleh angin, oleh hujan
oleh warna dan oleh cerita
langkahku bangun dengan air mata
bukan bahagia apalagi karena luka
aku tak menamainya, aku tak suka!!
tak cukup aku merasa yang tak biasa
tak cukup aku melayang dalam impian
aku ingin lebih. . .
lebih dari semua . . .
semua yang pernah ada
air mataku menetes di detik akhir
bukan karena menyesal atau merenung
bukan cengeng karena dipukul
aku tak mengadu
aku bukan pecundang
yang dibenci setiap zaman, atau mungkin orang-orang
kau tau?
ya, ini karena. . .
aku
aku menemukanmu . . .
dengan senyuman sejuta kenangan
dalam lingkup yang tak terbataskan
dalam kematian yang kau hidupkan
dan dalam . . .
CATATAN HITAM
dari sini aku mengawali perjalanan sang pencari hidup,
sampai kapanpun, sampai kau bunuhpun
kau tetap...
?||%=232 x: :3?2+
(purnama ke empat)

Es ~2
Selama beberapa menit badanku telungkup di atas tanah, entah harus melakukan apa
Lelah, tubuh ini serasa mati
Otak menghentikan kerja impuls sehingga aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi
Kerongkongan ini melemahkanku, mengalahkanku, membunuhku
Kau curang, kerongkongan !
Mengapa kau tak bisa menerima air liurku? setidaknya itu masih membuatmu basah !
Mengapa kau tak bisa menungguku untuk menyelesaikan perjalanan ini? setelah itu aku akan memberikanmu minuman dingin bertaraf kerajaan semau yang kau suka, sampai kau puas, sampai kau tak berdaya dan tak mampu lagi untuk meminumnya !
Tolong, kerongkongan mengertilah sedikit terhadap keadaanku !
Jangan seenaknya kau paksa diriku untuk menuruti semua keinginanmu !
Rontaku terus dalam hati tanpa mengeluarkan sedikitpun kata dari mulut manisku
Ah percuma, percuma aku mencoba menghitung jumlah butir tanah, percuma aku memarahi benda abstrak itu!
Toh dia tidak akan menggubris keinginan hati ini
Aku menyerah pada keadaan, menyerah karena kemenangan tidak jatuh kepadaku
Aku pun menunggu lagi
Menunggu beberapa menit yang sungguh tidak berguna
Menunggu dalam kediaman diri yang tidak berdaya
Menunggu
Ah aku tidak tahan
Akhirnya aku mencoba mengangkat kepalaku yang seperti besi ini
Kutengok jauh ke depan
Bagaikan sebuah fatamorgana di padang pasir
Fatamorgana seperti yang pernah muncul dalam kisah arabian night di film kartun doraemon
Terlihat balok es berdiri megah tepat di hadapanku, di bawah naungan pohon yang teduh
Balok es yang keliatan, oh mungkin sebenarnya dapat menyejukkan kerongkonganku yang penuh keluhan ini
Balok es yang dialiri titik es yang jatuh perlahan-lahan ke tanah itu membuat kerongkongan ini kian meronta dan menarik diriku agar mendekati sang pujaan hatinya itu
Tetapi, otakku berusaha berkelit dari kenyataan yang ada di depan mata itu
"Ah mungkin aku hanya berfantasi atau mungkin mataku sedang mengalami gangguan karena kerja otakku yang sedang tidak beres"
Mataku mulai mengerjap ngerjap untuk memastikan kilauan yang sekarang ada di hadapanku
Tetapi, sekali lagi otak ini berusaha berkelit dari bantuan yang diturunkan Tuhan kepadanya
Lelah, tubuh ini serasa mati
Otak menghentikan kerja impuls sehingga aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi
Kerongkongan ini melemahkanku, mengalahkanku, membunuhku
Kau curang, kerongkongan !
Mengapa kau tak bisa menerima air liurku? setidaknya itu masih membuatmu basah !
Mengapa kau tak bisa menungguku untuk menyelesaikan perjalanan ini? setelah itu aku akan memberikanmu minuman dingin bertaraf kerajaan semau yang kau suka, sampai kau puas, sampai kau tak berdaya dan tak mampu lagi untuk meminumnya !
Tolong, kerongkongan mengertilah sedikit terhadap keadaanku !
Jangan seenaknya kau paksa diriku untuk menuruti semua keinginanmu !
Rontaku terus dalam hati tanpa mengeluarkan sedikitpun kata dari mulut manisku
Ah percuma, percuma aku mencoba menghitung jumlah butir tanah, percuma aku memarahi benda abstrak itu!
Toh dia tidak akan menggubris keinginan hati ini
Aku menyerah pada keadaan, menyerah karena kemenangan tidak jatuh kepadaku
Aku pun menunggu lagi
Menunggu beberapa menit yang sungguh tidak berguna
Menunggu dalam kediaman diri yang tidak berdaya
Menunggu
Ah aku tidak tahan
Akhirnya aku mencoba mengangkat kepalaku yang seperti besi ini
Kutengok jauh ke depan
Bagaikan sebuah fatamorgana di padang pasir
Fatamorgana seperti yang pernah muncul dalam kisah arabian night di film kartun doraemon
Terlihat balok es berdiri megah tepat di hadapanku, di bawah naungan pohon yang teduh
Balok es yang keliatan, oh mungkin sebenarnya dapat menyejukkan kerongkonganku yang penuh keluhan ini
Balok es yang dialiri titik es yang jatuh perlahan-lahan ke tanah itu membuat kerongkongan ini kian meronta dan menarik diriku agar mendekati sang pujaan hatinya itu
Tetapi, otakku berusaha berkelit dari kenyataan yang ada di depan mata itu
"Ah mungkin aku hanya berfantasi atau mungkin mataku sedang mengalami gangguan karena kerja otakku yang sedang tidak beres"
Mataku mulai mengerjap ngerjap untuk memastikan kilauan yang sekarang ada di hadapanku
Tetapi, sekali lagi otak ini berusaha berkelit dari bantuan yang diturunkan Tuhan kepadanya



